Wednesday, April 10, 2002

Arafat, Sharon, dan Bom Bunuh Diri




                                                 Photo credit:  http://www.news10.net/news/national/200341/5/

Oleh Benny YP Siahaan
Suara Pembaruan, 10/04/2002

Saya ingin menjadi syuhada (martir), teriak Yasser Arafat berulang-ulang dalam siaran stasium Al-Jazeera setelah Israel mengisolasi dan melancarkan agresi militer di tempat perlindungannya di Ramallah, baru-baru ini. Arafat menambahkan bahwa Israel menginginkan dia mati, menjadi tawanan, atau dibuang (expel). Kecaman terhadap tindakan Israel segera mengalir dari berbagai belahan dunia. Indonesia turut mengutuk keras tindakan Israel tersebut.
Aksi Israel mengisolasi Arafat di Ramallah disebabkan Presiden Palestina itu dianggap paling bertanggung jawab terhadap intifadah. Khususnya serangan bunuh diri yang amat meneror dan membuat rakyat Israel frustasi. Tuntutan Israel itu didasarkan pada alasan bahwa Arafat merupakan ketua Otoritas Palestina yang merupakan pemerintah de-facto di Palestina. Namun, apakah benar Arafat merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas maraknya gelombang serangan bunuh diri? Apakah dapat dikatakan hal itu terjadi akibat kelalaiannya bertindak keras terhadap pada calon pengebom bunuh diri Palestina tersebut.
Akhir-akhir ini hampir setiap hari kita mendengar adanya serangan bom bunuh diri rakyat Palestina. Tindakan tersebut biasanya langsung direspon Israel dengan melancarkan serangan militer ke wilayah Palestina. Akhir Januari lalu bahkan seorang wanita yang anggota paramedic turus menjadi pelaku bom bunuh diri. Hal ini sempat menimbulkan pro dan kontra di dunia Arab dan Islam. Apakah layak seorang wanita melakukan serangan bunuh diri?
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, gerakan intifadah akhir-akhir ini telah memasuki fase baru. Suatu tahapan yang lebih mengarah pada sikap frustasi dan patriotism total rakyat Palestinal. Apabila sebelumnya gerakan bom bunuh diri tersebut dilakukan oleh kaum lelaki dan umumnya anggota milisi, maka kini sebagian besar rakyat Palestina siap menjadi martir bagi negaranya dengan melakukan serangan bom bunuh diri. Cara itu dipilih karena dianggap cukup efektif untuk menghadapi Israel. Hal ini juga terkait dengan ketidakberdayaan Palestina ketika dihadapkan pada military might Israel.
Paling sedikit ada dua sebab mengapa gerakan intifadah akhir-akhir ini semakin keras (violent), dan memfokuskan apda serangan bom bunuh diri. Pertama, karena puncak rasa frustasi rakyat Palestina. Bagaimana tidak, hamper 18 bulan ini sebagian besar rakyat dan pemuda Palestina diisolasi oleh Israel. Isolasi ini mengakibatkan ekonomi Palestina lumpuh, sehingga mereka banyak kehilangan pekerjaan. Dengan kehidupan seperti itu tidak aneh bila akhirnya mereka bertindak nekat.
Kedua, sejak terpilihnya Ariel Sharon sebagai Perdana Menteri Israel, dia menunjukkan sikap kerasnya terhaap masalah Palestina. Khususnya menghadapi intifadah rakyat Palestina yang sebelumnya hanya diawali dengan lemparan batu dan serangan konvensional. Sikap keras Sharon itu semakin membuat rakyat Palestina yakin bahwa Israel (Sharon) tidak menginginkan berdirinya Negara Palestina. Alasan ini membuat mereka rakyat Palestina melawan Israel dengan segala daya dan upaya, termasuk mengorbankan nyawa.
Menurut Ed Blanche, penggunaan bom bunuh diri di Timur Tengah dirintis oleh Partai Sosialis-Nasionalis Suriah (SSNP). Upaya itu dilakukan untuk mengusir Israel dari Beirut pada 1980-an. Waktu itu upaya tersebut cukup efektif, apalagi kebanyakan yang menjalankan misi bunuh diri ialah wanita. Tidak heran baru-baru ini Jaksa Agung AS. Ascroft, menuduh Suriah (juga Iran dan Irak) yang menyebabkan kebuntuan penyelesaian konflik Palestina-Israel. Negara-negara itu dinilai mendorong terjadinya serangan bunuh diri di Palestina tersebut. Selain itu, pihak intelijen mengatakan bahan-bahan peledak untuk bom bunuh diri tersebut diselundupkan ke Palestina melalui kapal yang masuk melalui Iran dan Damaskus.
Selama ini faksi-faksi militant Palestina yang aktif melancarkan serangan bunuh diri di antaranya kelompok militant garis keras Jihad Islami, Brigade Martir Al-Aqsa (sempalan kelompok Fatah pimpinan Yasser Arafat), dan Hamas. Beberapa kali Araft mencoba meredam upaya serangan bunuh diri oleh faksi-faksi garis keras tersebut. Termasuk di antaranya membubarkan Brigade Martir Al-Aqsa (BMA) yang berada di bawah faksi Fatah pimpinan Arafat.
Seruan Arafat itu tidak dipatuhi, dan malahan ditolak. Hal ini menandakan bahwa pengaruh Arafah difaksinya sendiri mulai memudar. Apalagi ia dikelilingi oleh orang-orang garis keras seperti Marwan Barghouti. Dilain pihak, fenomena baru dari eskalasi intifadah kali ini adalah bersatunya faksi-faksi garis keras Palestina dalam melawan musuh bersama mereka, yaitu Israel. Selama ini faksi Fatah dan faksi-faksi militant Islam Palestina sulit bersatu ibarat minyak dengan air.
Kembali kepada kebijakan Sharon yang mengisolasi Arafat dan agresi di Ramallah guna meredam aksi bom bunuh diri, tampaknya juga tidak lebih dari tindakan frustasi Sharon. Khususnya menghadapi intifadah fase baru. Sikap itu juga dilandasi gagalnya usaha Sharon membujuk AS supaya memutuskan hubungan dengan Arafat. Mungkin Sharon bermaksud mengisolasi Arafat supaya timbul perpecahan di Otoritas Palestina. Dengan Arafat diisolasi, maka pemerintahan Palestina tidak berjalan dan akan muncul pemimpin baru menggantikan Arafat.
Jika kemungkinan itu benar, kebijakan Sharon itu sungguh absurd dan amat riskan. Kalau nantinya benar-benar mucul pemimpin baru (jika Arafat tewas misalnya, meskipun pejabat Israel menjamin tidak akan demikian), apakah bisa dijamin bahwa pengganti Arafat tersebut akan sekelas Arafat? Daya tahan Arafat sehingga dapat memegang tampuk pimpinan Palestina hingga kini karena sikap yang lentur dan kepiawaiannya berdiplomasi. Baik terhadap AS maupun Israel.
Sinyalemen menyebutkan bahwa calon kuat pengganti Arafat ialah Ketua Parlemen PA Ahmad Qurey (Abu Qurey). Namun, Abu Qurey belum teruji kepemimpinan, kelenturan, dan kepiawaiannya dalam berdiplomasi. Karena itu, kebijakan Sharon mengisolasi Araft tidak akan membaha hasil apapun, termasuk meredam serangan bunuh diri yang amat ditakuti rakyat Israel.
Dalam kaitan itu, dapat disimpulkan bahwa kejadian di Palestina terakhir ini adalah benturan kebijakan frustasi Sharon dan rasa frustasi rakyat Palestina. Rasa frustasi itu diwujudkan dengan serangan bom bunuh diri yang ternyata cukup efektif. Namun, keadaan ini berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Apalagi dengan sikap Bush yang seolah-olah member lampu hijau terhadap agresi Israel tersebut dengan mengatakan bahwa tindakan Sharon tersebut “dapat dimengerti”. Karena itu, perlu intervensi dunia internasional untuk mengatasi hal ini. Khususnya intervensi AS, PBB, Uni Eropa, maupun dunia Arab sendiri.
-----------------------------------------------
Penulis adalah pengamat masalah internasional, tinggal di Damaskus, Suriah.
Source: http://suarapembaruan.com/News/2002/04/10/Editor/edi01.htm










No comments:

Post a Comment