Oleh Benny YP Siahaan
Suara Pembaruan, 27 March 2002
Banyak yang berpendapat bahwa KTT Arab yang diselenggarakan di Beirut, Lebanon, 27-28 Maret tahun ini cukup krusial mengingat dibayangi dua kejadian penting di Timur Tengah. Pertama, meningkatnya kekerasan di Palestina dan kedua, adanya rencana AS untuk mengadakan kampanye militer ke Irak ayng ditandai oleh lawatan penjajakan Wapres Dick Chenney ke Negara-negara sahabat AS di Timteng. Bersamaan dengan itu, menjelang KTT Arab diselenggarakan, utusan khusus AS Anthony Zinni juga telah dikirim lagi oleh Bush guna meredam eskalasi kekerasan di Palestina setelah sebelumnya gagal.
Memang, seperti agenda utama KTT Arab dalam satu dekade terakhir ini, sudah dipastikan agenda yang akan mewarnai KTT Arab di Beirut ini adalah masalah Palestina dan embargo Irak. Tapi apa benar sebegitu besar harapan yang dipertaruhkan dari hasil KTT ini dalam membantun memecahkan masalah dunia Arab dewasa ini, yaitu konflik Palestina dan masalah Irak?
Beberapa waktu yang lalu kenalan penulis, seorang pengungsi Palestina di Damaskus, Suriah mengatakan bahwa dia juga amat berharap KTT Arab ini dapat menghasilkan resolusi yang berpihak pada Palestina. Resolusi itu juga diharapkan dapat direalisasikan. Namun dia tidak bias berharap banyak. Dia sudah amat rindu kembali ke kampung halamannya. Dia sendiri merupakan pengungsi generasi kedua di Damaskus, orang tuanya dulu berasal dari Kota Nazareth.
Cemerlang
Harapan akan KTT Arab kali akan menghasilkan sesuatu yang konkret, yang jauh dari basa-basi diplomatic dan pidato-pidato retorik yang kosong muncul setidaknya disebabkan tiga hal. Pertama, adanya usulan perdamaian Pangeran Abdullah dari Saudi mengenai pengakuan (normalisasi) negara-negara Arab terhadap Israel yang diimbangi dengan penarikan Israel dari seluruh wilayah pendudukan sebelum tahun 1967.
Sebenarnya usul ini bukan sama sekali baru. Baru-baru ini Edward Said mengatakan, usul Saudi itu harus dilihat hati-hati, karena usulan itu tidak lebih dari versi ulang Reagan Plan (1982), Fahd Plan (1983) dan Madrid Plan (1991). Namun demikian, bagaimanapun diakui bahwa pangeran Abdullah telah secara cemerlang mengungkapkannya pada saat yang tepat setelah adanya puncak kebuntuan dan eskalasi kekerasan di Palestina yang sudah berada dalam taraf yang membahayakan.
Kedua, dari hasil lawatan Dick Chenney ke Timteng baru-baru ini dapat ditarik kesimpulan betapa besar keterkaitan antara masalah Palestina dan Irak. AS tampaknya mulai sadar bahwa agendanya untuk menyerang Irak tidak akan mendapat dukungan seperti tahun 1991 apabila masalah Palestina belum tuntas.
Ketiga, dukungan masyarakat internasional terhadap Palestina terutama PBB juga semakin menguat. Sekjen PBB Kofi Annan dalam suratnya kepada PM Ariel Sharon baru-baru ini untuk pertama kalinya mengatakan, pendudukan Israel di wilayah Palestina ilegal. Namun demikian, ketidakkompakan merupakan masalah kronis yang dihadapi negara-negara Arab. Hal ini yang membuat penulis tidak optimistis bahwa KTT Arab kali ini membuat sesuatu yang krusial dan produktif. Gontok-gontokan, lain didepan lain dibelakang merupakan hal biasa dalam hubungan antar anggota Liga Arab ini.
Hal ini bisa dibuktikan antara lain, menjelang KTT diisukan bahwa Hosni Mubarak dikabarkan tidak akan hadir pada KTT dengan alasan karena Yaser Arafat tidak hadir. Namun informasi lain mengatakan, keengganan Hosni datang ke KTT adalah karena dalam KTT ini ia tidak menjadi bintang lagi digantikan oleh Pangeran Abdullah dengan proposal perdamaiannya. Namun informasi terakhir menyebut Hosni Mubarak akhirnya bersedia datang setelah AS menjamin akan menekan Israel mengizinkan Arafat pergi menghadiri KTT.
Menurut penulis, ada hal yang aneh disini. Apabila benar AS akan menekan Israel untuk membiarkan Arafat ke Beirut, dapat dipertanyakan mengapa AS begitu ngotot agar KTT Arab ini “sukses”. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya.
Menurut penulis, hal ini tidak lepas dari proposal Saudi yang direncanakan akan dibahas dalam KTT Arab di Beirut ini. Tampaknya setelah dikonsultasikan ke berbagai pihak terkait (kecuali Israel) semua pihak akan setuju apabila proposal ini dibahas dalam KTT. Seperti tadi dikatakan, proposal Saudi itu berisi normalisasi hubungan dengan Israel diimbangi dengan penarikan Israel dari wilayah pendudukan sebelum tahun 1967.
Disini AS amat berkepentingan agar KTT ini berhasil membahas masalah Palestina dengan basis usulan Pangeran Abdullah. Toh proposal Abdullah itu, yang menurut Edward Said merupakan versi ulang usulan Reagan, Fahd dan Madrid, nota bene sejalan juga dengan kepentingan AS.
Tapi, ada pertanyaan baru. Apabila resolusi KTT Arab nanti atau apapun namanya telah keluar mengenai Palestina yang berbasis pada usulan Saudi tersebut, apakah usulan itu akan diterima oleh Israel? Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa Israel selalu akan berkata normalisasi dulu baru bicara penarikan mundur. Dari sini penulis melihat, KTT Arab kali ini tidak akan berbeda dengan KTT-KTT sebelumnya. Bedanya hanya, dalam KTT Arab kali ini tampaknya AS amat antusias dan ingin sekali proposal Saudi dibahas dalam KTT ini. Ini game yang diinginkan oleh AS untuk dimainkan oleh pemimpin-pemimpin Arab dalam KTT Arab di Beirut ini.
Diperkirakan para para pemimpin Arab itu akan rebut sendiri dalam pembahasan peace plan-nya Saudi, yang apapun hasilnya belum tentu akan diterima Israel. Ketika nanti muncul kebuntuan setelah resolusi KTT keluar dan diajukan ke meja perundingan dengan Israel, disini AS akan berperan lagi sebagai sekutu utama Israel mengingat ia tidak pernah dilibatkan dalam usulan perdamaian tersebut, misalnya normalisasi terlebih dulu baru bicara penarikan mundur.
Dilain pihak, menurut sebuah sumber di Damaskus, sebenarnya tidak semua negara Arab kompak menentang penyerangan terhadap Irak. Di media massa mereka memang dengan lantang menentang penyerangan itu. Tetapi, kata sumber tersebut lebih lanjut, setelah ditakut-takuti Chenney mengenai kapabilitas militer Irak akhir-akhir ini, banyak juga yang gentar.
Ini tampaknya agenda AS yang dapat dibaca penulis. AS akan sukses melaksanakan agendanya yaitu meredam eskalasi kekerasan di Palestina tanpa mengurangi dukungannya kepada Israel. Sementara dari pemimpin negara-negara Arab, AS akan mendapat dukungan (atau setidaknya izin/consent) untuk menyerang Irak setelah memuaskan mereka dalam KTT Arab di Beirut.
----------------------------------
Penulis adalah pengamat masalah internasional tinggal di Damaskus, Suriah.
Suara Pembaruan, 27 March 2002
Banyak yang berpendapat bahwa KTT Arab yang diselenggarakan di Beirut, Lebanon, 27-28 Maret tahun ini cukup krusial mengingat dibayangi dua kejadian penting di Timur Tengah. Pertama, meningkatnya kekerasan di Palestina dan kedua, adanya rencana AS untuk mengadakan kampanye militer ke Irak ayng ditandai oleh lawatan penjajakan Wapres Dick Chenney ke Negara-negara sahabat AS di Timteng. Bersamaan dengan itu, menjelang KTT Arab diselenggarakan, utusan khusus AS Anthony Zinni juga telah dikirim lagi oleh Bush guna meredam eskalasi kekerasan di Palestina setelah sebelumnya gagal.
Memang, seperti agenda utama KTT Arab dalam satu dekade terakhir ini, sudah dipastikan agenda yang akan mewarnai KTT Arab di Beirut ini adalah masalah Palestina dan embargo Irak. Tapi apa benar sebegitu besar harapan yang dipertaruhkan dari hasil KTT ini dalam membantun memecahkan masalah dunia Arab dewasa ini, yaitu konflik Palestina dan masalah Irak?
Beberapa waktu yang lalu kenalan penulis, seorang pengungsi Palestina di Damaskus, Suriah mengatakan bahwa dia juga amat berharap KTT Arab ini dapat menghasilkan resolusi yang berpihak pada Palestina. Resolusi itu juga diharapkan dapat direalisasikan. Namun dia tidak bias berharap banyak. Dia sudah amat rindu kembali ke kampung halamannya. Dia sendiri merupakan pengungsi generasi kedua di Damaskus, orang tuanya dulu berasal dari Kota Nazareth.
Cemerlang
Harapan akan KTT Arab kali akan menghasilkan sesuatu yang konkret, yang jauh dari basa-basi diplomatic dan pidato-pidato retorik yang kosong muncul setidaknya disebabkan tiga hal. Pertama, adanya usulan perdamaian Pangeran Abdullah dari Saudi mengenai pengakuan (normalisasi) negara-negara Arab terhadap Israel yang diimbangi dengan penarikan Israel dari seluruh wilayah pendudukan sebelum tahun 1967.
Sebenarnya usul ini bukan sama sekali baru. Baru-baru ini Edward Said mengatakan, usul Saudi itu harus dilihat hati-hati, karena usulan itu tidak lebih dari versi ulang Reagan Plan (1982), Fahd Plan (1983) dan Madrid Plan (1991). Namun demikian, bagaimanapun diakui bahwa pangeran Abdullah telah secara cemerlang mengungkapkannya pada saat yang tepat setelah adanya puncak kebuntuan dan eskalasi kekerasan di Palestina yang sudah berada dalam taraf yang membahayakan.
Kedua, dari hasil lawatan Dick Chenney ke Timteng baru-baru ini dapat ditarik kesimpulan betapa besar keterkaitan antara masalah Palestina dan Irak. AS tampaknya mulai sadar bahwa agendanya untuk menyerang Irak tidak akan mendapat dukungan seperti tahun 1991 apabila masalah Palestina belum tuntas.
Ketiga, dukungan masyarakat internasional terhadap Palestina terutama PBB juga semakin menguat. Sekjen PBB Kofi Annan dalam suratnya kepada PM Ariel Sharon baru-baru ini untuk pertama kalinya mengatakan, pendudukan Israel di wilayah Palestina ilegal. Namun demikian, ketidakkompakan merupakan masalah kronis yang dihadapi negara-negara Arab. Hal ini yang membuat penulis tidak optimistis bahwa KTT Arab kali ini membuat sesuatu yang krusial dan produktif. Gontok-gontokan, lain didepan lain dibelakang merupakan hal biasa dalam hubungan antar anggota Liga Arab ini.
Hal ini bisa dibuktikan antara lain, menjelang KTT diisukan bahwa Hosni Mubarak dikabarkan tidak akan hadir pada KTT dengan alasan karena Yaser Arafat tidak hadir. Namun informasi lain mengatakan, keengganan Hosni datang ke KTT adalah karena dalam KTT ini ia tidak menjadi bintang lagi digantikan oleh Pangeran Abdullah dengan proposal perdamaiannya. Namun informasi terakhir menyebut Hosni Mubarak akhirnya bersedia datang setelah AS menjamin akan menekan Israel mengizinkan Arafat pergi menghadiri KTT.
Menurut penulis, ada hal yang aneh disini. Apabila benar AS akan menekan Israel untuk membiarkan Arafat ke Beirut, dapat dipertanyakan mengapa AS begitu ngotot agar KTT Arab ini “sukses”. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya.
Menurut penulis, hal ini tidak lepas dari proposal Saudi yang direncanakan akan dibahas dalam KTT Arab di Beirut ini. Tampaknya setelah dikonsultasikan ke berbagai pihak terkait (kecuali Israel) semua pihak akan setuju apabila proposal ini dibahas dalam KTT. Seperti tadi dikatakan, proposal Saudi itu berisi normalisasi hubungan dengan Israel diimbangi dengan penarikan Israel dari wilayah pendudukan sebelum tahun 1967.
Disini AS amat berkepentingan agar KTT ini berhasil membahas masalah Palestina dengan basis usulan Pangeran Abdullah. Toh proposal Abdullah itu, yang menurut Edward Said merupakan versi ulang usulan Reagan, Fahd dan Madrid, nota bene sejalan juga dengan kepentingan AS.
Tapi, ada pertanyaan baru. Apabila resolusi KTT Arab nanti atau apapun namanya telah keluar mengenai Palestina yang berbasis pada usulan Saudi tersebut, apakah usulan itu akan diterima oleh Israel? Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa Israel selalu akan berkata normalisasi dulu baru bicara penarikan mundur. Dari sini penulis melihat, KTT Arab kali ini tidak akan berbeda dengan KTT-KTT sebelumnya. Bedanya hanya, dalam KTT Arab kali ini tampaknya AS amat antusias dan ingin sekali proposal Saudi dibahas dalam KTT ini. Ini game yang diinginkan oleh AS untuk dimainkan oleh pemimpin-pemimpin Arab dalam KTT Arab di Beirut ini.
Diperkirakan para para pemimpin Arab itu akan rebut sendiri dalam pembahasan peace plan-nya Saudi, yang apapun hasilnya belum tentu akan diterima Israel. Ketika nanti muncul kebuntuan setelah resolusi KTT keluar dan diajukan ke meja perundingan dengan Israel, disini AS akan berperan lagi sebagai sekutu utama Israel mengingat ia tidak pernah dilibatkan dalam usulan perdamaian tersebut, misalnya normalisasi terlebih dulu baru bicara penarikan mundur.
Dilain pihak, menurut sebuah sumber di Damaskus, sebenarnya tidak semua negara Arab kompak menentang penyerangan terhadap Irak. Di media massa mereka memang dengan lantang menentang penyerangan itu. Tetapi, kata sumber tersebut lebih lanjut, setelah ditakut-takuti Chenney mengenai kapabilitas militer Irak akhir-akhir ini, banyak juga yang gentar.
Ini tampaknya agenda AS yang dapat dibaca penulis. AS akan sukses melaksanakan agendanya yaitu meredam eskalasi kekerasan di Palestina tanpa mengurangi dukungannya kepada Israel. Sementara dari pemimpin negara-negara Arab, AS akan mendapat dukungan (atau setidaknya izin/consent) untuk menyerang Irak setelah memuaskan mereka dalam KTT Arab di Beirut.
----------------------------------
Penulis adalah pengamat masalah internasional tinggal di Damaskus, Suriah.
No comments:
Post a Comment