Oleh Benny Yan Pieter Siahaan
Suara Pembaruan, 28/11/2001
Melihat kecenderungan terakhir ini sudah dapat dipastikan pasukan Aliansi Utara akan dapat menguasai Afghanistan. Namun seperti banyak dipertanyakan, bagaimana nasib Afghanistan setelah Taliban?
Seorang diplomat Afghanistan di Damaskus, berkomentar, sebenarnya saat ini rakyat Afghanistas sudah tidak perduli lagi siapa yang berkuasa. Mereka sudah muak dengan perang. Menurutnya, siapapun yang berkuasa di Afghanistan akan didukung rakyat selama mereka memberikan keamana dan kesejahteraan. Bahkan sebenarnya, tanpa diserang AS-pun, pemerintah Taliban sudah diambang kehancuran, karena gagal memberikan ‘makan’ rakyatnya. Seperti pepatah mengatakan “rakyat lapar mudah marah”.
Rekan Diplomat Afghanistan tadi mengatakan, dia juga dulu menaruh harapan pada Taliban, karena apda awalnya Taliban member rasa aman setelah pemerintahan Mujahiddin yang korup dan kacau membawa Afghanistan ke ambang kehancuran dalam perang suadara. Namun, seperti diketahui, setealh berkuasa Taliban ternyata tidak lebih baik dari pemerintah sebelumnya. Bahkan Taliban telah menjadikan Afghanistan menjadi negara yang tidak punya masa depan sama sekali. Oleh karenanya peristiwa di Kabul tersebut di atas cukup menjustifikasi komentar diplomat Afghanistan tadi.
Ketika ditanyakan bagaimana tentang peringatan serta kecaman dunia Islam atas serangan AS di bulan Ramadhan, sang diplomat Afghanistan tadi mengatakan bahwa di Afghanistan yang bisa menghentikan perang hanya alam, yaitu musim dingin.
Sudah menjadi tradisi dan kesepakatan tidak tertulis selama ini di Afghanistan bahwa musim dingin adalah masa jeda untuk perang. Dan musim semi adalah awal dari perang baru. Puncak-puncaknya musim dingin adalah bulan Januari dan Februari, saat itu dinginnya udara membuat tidak ada yang sanggup melakukan perang.
Hilang Kesempatan
Jadi dapat dimengerti, mengapa AS dan Aliansi Utara begitu bersikeras tetap melakukan serangan dalam bulan Ramadhan. Tampaknya strategi ini dilaksanakan karena apabila serangan dilanjutkan kembali setelah akhir Ramadhan yang jatuh pada pertengahan Desember, konsentrasi dan kesempatan yang akan hilang cukup besar bagi AS dan Aliansi Utara.
Pertama, dikhawatirkan moral dan semangat pasukan Aliansi Utara mulai kendur akibat jeda selama bulan Ramadhan. Hal ini disebabkan berdasarkan laporan media massa pada akhir November menunjukkan bahwa adanya friksi pasukan Aliansi Utara dan AS mulai tampak di mana keduanya saling tuduh bahwa AS kurang mem-back-up pasukan lapangan Aliansi Utara sementara AS menuduh pasukan Aliansi Utara kurang gigih melakukan serangan darat.
Kedua, AS pada saat menjelang Ramadhan sedang dalam titik krusial akan serangan udaranya yang diyakini akan membuahkan hasil. Mungkin scenario AS, Taliban dapat dijatuhkan sebelum Ramadhan. Tetapi ternyata keadaan di lapangan mengatakan lain. Dan apabila terpaksa dihentikan dalam bulan Ramadhan banyak kerugian baik dari segi moril maupun material bagi AS.
Ketiga, jeda Ramadhan tersebut dikhawatirkan akan memberikan kesempatan bagi Taliban untuk mengkonsolidasi diri dan mengatur strategi baru dalam menghadapi koalisi AS dan Aliansi Utara.
Masalah-masalah krusial yang dapat diidentifikasi yang diperkirakan akan segera muncul setelah kemenangan Aliansi Utara antara lain. Pertama, masalah pembagian kekuasaan, Rekan diplomat Afghanistan dan merupakan etnik pendukung utama Taliban berpendapat, setelah kemenangan Aliansi Utara ini jika pembagian kekuasaan tidak diatur dengan baik akan membawa nasib Afghanistan sama seperti ketika pemerintahan Mujahiddin berkuasan. Hal ini disebabkan karena budaya bangsa Afghanistan dimana rasa kesukuan dan persaingan antar etnik amat tinggi dan semua umumnya merasa lebih berjasa dari yang lain.
Pada masa pemerintahan Mujahiddin, etnik Pashtun merasa kecewa karena sebagian besar elit politik dan posisi penting pemerintahan diisi oleh etnik minoritas. Sebagai contoh, Burhanuddin Rabbani berasal dari etnik minoritas Tajik dan Menteri Pertahanan oleh Ahmad Shah Massoud yang juga dari etnik Tajik. Sementara etnik Pashtun tidak mendapat porsi sewajarnya dalam pemerintahan.
Media Barat selalu mendengungkan bahwa Ahmad Zahir Shah, mantan raja Afghanistan yang digulingkan pada 1973 dinilai tepat untuk mempersatukan bangsa Afghanistan. Tetapi apakah itu sudah mendapat consensus warga Afghanistan baik dari etnik Pashtun maupun etnik lain? Atau ini hanya akal-akalan Barat/AS untuk mendirikan pemerintahan boneka di Afghanistan.
Kemampuan Menurun
Dari sebuah sumber Afghanistan di Damaskus didapat informasi bahwa tidak semua etnik Pashtun setuju Zahir Shah memimpin Afghanistan pasca-Taliban mengingat usianya yang sudah terlalu tua dan kemampuan fisik dan mentalnya yang menurun. Diperkirakan dia akan banyak bergantung kepada orang sekelilingnya yang di Afghanistan sendiri tidak dikenal.
Sejarah membuktikan, setiap Negara yang ingin “bermain” (baca: menguasai) di Afghanistan dengan membentuk pemerintahan boneka akan kecewa, seperti yang dialami Inggris (1839-42: 1878-81) dan Uni Soviet (1979-1988). Karena itu, apabila AS dan Barat tetap merekayasa sebuah pemerintahan boneka lewat tangan PBB seperti sekarang ini, siapapun orangnya, akan mengulan sejarah yang dibuat Inggris dan Uni Soviet. Kepala pemerintahan yang didapat dari hasil consensus seluruh faksi yang ada akan lebih baik dan langgeng disbanding hasil sebuah rekasaya.
Kedua, rombongan dari Taliban. Pemimpin Talibah Mullah Omar telah mengatakan, dia menyatakan lebih baik mati atau lari ke gunung untuk melawan Aliansi Utara secara bergerilya. Melihat gelagat Talibah yang mundur tanpa melakukan perlawanan yang berarti terhadap Pasukan Aliansi dan AS, jangan segera diartikan bahwa mereka takluk. Justru dengan mundurnya mereka ini dapat diartikan sebagai strategi mereka untuk berkonsolidasi dan menyusun kekuatan untuk menyerang kembali. Toh, wilayah Afghanistan yang dulu 90% dikuasai Taliban tidak dicapai dalam waktu singkat tetapi dimulai sejak Kabul jatuh pada tahun 1996.
Ketiga, pembangunan kembali Afghanistan. Afghanistan yang sudah hancur akibat perang saudara dan akibat “permaianan” Negara-negara besar tampaknya memerlukan dana yang besar sekali untuk membangun kembali Afghanistan. Disini komitmen AS dan Barat kembali diuji. Jika sebelumnya pada masa konflik Uni Soviet-Afghanistan. AS hanya membantu kemudian meninggalkan begitu saja, maka saat ini kita akan melihat bagaimana sikap AS setelah pasukan Aliansi Utara berkuasa.
Menlu Inggris Jack Straw baru-baru ini di televisi mengakui bahwa kesalahan dunia Barat adalah meninggalkan Afghanistan pasca-Soviet yang berakibat Afghanistan yang labil menjadi sumber konflik di kawasan. Kita tunggu saja kesungguhan “niat baik” itu.
Keempat, masalah pengungsi dan perbatasan. Akibat perang saudara yang bertahun-tahun dan kondisi politik yang tidak stabil melahirkan dan menyebar pengungsi Afghanistan keseluruh dunia. Di Pakistan diperkirakan terdapat dua juta warga Afghanistan. Masalah pengungsi ini akan diperkirakan menambah beban baru bagi pemerintah pasca-Taliban, khususnya para pengungsi yang lari ke perbatasan Pakistan karena dapat menjadi flash-point antara pemerintahan pasca-Taliban dengan Pakistan.
Pihak Aliansi Utara selama ini menuduh dan menyalahkan Pakistan atas lahirnya Taliban dan instabilitas politik di Afghanistan. Demikian juga Pakistan kurang suka terhadap Aliansi Utara yang selama ini didukung India dan Iran yang nota benemusuh tradisional Pakistan. Keberadaan pengungsi Afghanistan termasuk pasukan Taliban yang lari ke perbatasan Afghanistan-Pakistan dapat menimbulkan konflik perbatasan. Upaya pengejaran Taliban oleh Aliansi utara akan menimbulkan pelanggaran batas karena perbatasan yang tidak begitu jelas dan tentu Pakistan tidak akan diam terhadap adanya konflik di wilayahnya.
Kelima, Kehadiran pasukan asing. Belakangan ini terdapat rencana PBB untuk menempatkan pasukan perdamaian. Pengalaman (kesuksesan?) pasukan PBB di Timtim kiranya jangan diulang. Misalnya adanya rencana untuk mengambil otoritas sementara ataupun usaha melucuti pasukan Aliansi Utara maupun etnik lain untuk menertibkan keamanan. Hal ini disebabkan sudah begitu mengakarnya budaya senjata (gun culture) dan persaingan/konflik antar etnik dalam kehidupan rakyat Afghanistan. Apabila PBB terlalu menunjukkan arogansinya (seperti yang dilakukan di Timtim) dalam menjaga/memaksakan ketertiban, ini akan menyinggung para warlordtersebut dan bukannya tidak mungkin nanti malah warlord etnik-etnik itu bersatu mengusir pasukan PBB.
Keenam, perebutan sumber alam. Sebagaimana diketahui wilayah Asia Tengah, termasuk Afghanistan merupakan wilayah yang sangat kaya akan sumber energy. Dan saat ini wilayah itu sedang menjadi incaran Negara-negara besar untuk mendapatkan sumber energy baru, setelah wilayah Timur Tengah yang diperkirakan akan habis dalam dua dekade mendatang. Setelah Taliban jatuh, Negara-negara besar yang lainnya telah bersiap-siapa mengambil “bagiannya” di Afghanistan selain AS dan Inggris, tentunya adalah Rusia, India dan Iran karena mereka merasa punya “saham” juga mengingat mereka selama ini yang mendukung Aliansi Utara baik secara materi maupun persenjataan melawan Taliban.
Persaingan perebutan eksplorasi energi antar negara-negara besar ini bukannya tidak mungkin menimbulkan konflik baru dimana tentu saja tidak Negara-negara besar itu yang berperang melainkan lewat proxy-nya. Kalau sudah demikian, perang saudara bukan hal yang aneh lagi setelah Taliban jatuh.
Akhirnya, sulit melihat bayangan masa depan yang cerah dalam waktu dekat bagi Afghanistan.
------------------------------------------------
------------------------------------------------
Penulis adalah pemerhati masalah internasional, tinggal di Damaskus, Suriah.
Source: http://suarapembaruan.com/News/2001/11/28/Editor/edi01.html
No comments:
Post a Comment