Tuesday, November 30, 1999

Sekali Lagi Hubungan Dagang dengan Israel

Oleh Benny YP Siahaan

Suara Pembaruan 1 Desembr 1999


Sekali Lagi Hubungan Dagang dengan Israel

Rencana pembukaan hubungan dengan Isrel telah menjadi isu yang hangat dalam politik luar negeri Indonesia sejak Kabinet Gus Dur dimulai. Isu ini tidak saja menjadi polemik tidak saja di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Bahkan di dalam negeri mendapat tantangan yang cukup keras.

Seperti yang dikatakan menlu Alwi Shihab, kebijakan tersebut pada intinya hanya membuka hubungan dagang dengan Israel, tanpa menjual prinsip membela kepentingan rakyat Palestina. Dalam arti, tidak aka nada hubungan resmi (diplomatik) sebelum negara Palestina berdiri.


Sebagaimana dimaklumi, posisi dasar Indonesia selama ini terhadap sengketa Arab-Israel adalah tidak mengakui keberadaan negara Israel. Sikap ini banyak didasarkan rasa solidaritas dan balas budi terhadap dukungan negara-negara Arab pada masa awal perjuangan kemerdekaan RI. Misalnya , Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan Suriah merupakan negara ketiga.

Sebenarnya, apabila kita hitung-hitung untung ruginya, kalaupun jadi dilaksanakan, hubungan dagang dengan Israel tidaklah begitu menguntungkan dan bahkan cenderung merugikan, karena dilihat dari GDP (Growth Domestic Product), utang luar negeri yang besar, private consumption dan tingkat inflasi yang tinggi menunjukkan Israel bukanlah calon mitra dagang yang menguntungkan. Dikhawatirkan terjadi hubungan dagang yang tidak seimbang. Selain itu, secara tradisional mitra dagang dan pasar utama produk Israel adalah Amerika Utara dan Masyarakat Eropa.

Rencana pembukaan hubungan dagang dengan Isral tersebut akhirnya ditunda pada 19 November lalu mengingat kerasnya penolakan dari masyarakat Tanah Air.

Sementara di luar negeri, khususnya di Timur Tengah, apda umumnya negara-negara Arab concern bahkan cenderung menyesalkan langkan yang diambil Pemerintah Indonesia. Misalnya, negara-negara “garis keras” seperti Suriah dan Lebanon terkesan amat menyesalkan tindakan Indonesia tersebut. Langkah tersebut dinilai tidak saja menghianati posisi Indonesia selama ini tetapi juga dapat merusak citra Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam, karena dalam beberapa hal hubungan dengan Israel yang zionis dianggap mengkhianati Islam.

Selain itu, hubungan dagang dengan Israel secara terang-terangan tersebut dapat merembet ke negara-negara Islam lainnya yang dulu punya posisi sama dengan Indonesia. Malaysia mislanya. Sebagaimana diketahui Malaysia dan Brunei selama ini disinyalir mengadakan hubungan dagang dengan Israel secara sembunyi-sembunyi, Bulan lalu dikabarkan telah dating delegasi dagang Brunei ke Israel.

Kurang Peduli

Sementara negara-negara teluk yang kaya seperti Kuwait, Qatar, Saudi Arabia dan sebagainya terkesan kurang perudili terhadap krisi yang dialami Indonesia. Sikap ini juga tidak bisa sepenuhnya kita salahkan karena memang dalam masalah perdagangan/investasi, unsuk rasional lebih mengedapnkan disbanding unsur politis.

Dalam sebuah tajuk di harian di Suriah, diberitakan banyak negara Arab yang menyesalkan sikap Indonesia tersebut, namun demikian mereka juga menyesalkan sikap beberapa negara Arab yang justru bersengketa dengan Israel tetapi malah melakukan hubungan dengan Israel. Ironisnya, selama ini negara-negara Arab terkesan acuh tak acuh terhadap krisis ekonomi yang menimpa Indonesia. Namun setelah muncul rencana Indonesia membuka hubungan dagang dengan Israel, baru mereka seperti kebakaran jenggot.

Gus Dur sepanjang penulis amati selama ini adalah tokoh cerdas yang visi dan langkahnya sering mengejutkan dan terkadang baru dibelakang hari kita menyadari maksud di balik langkahnya tersebut. Kalau kita amati dengan seksama sebenarnya terdapat maksud tertentu di balik rencana untuk mengadakan hubungan dengan Israel tersebut.

Pengajuan rencana tersebut tepat waktu (timely) dan sudah dipikirkan dan diantisipasi masak-masak untung dan ruginya. Menurut pengamatan penulis, sebenarnya Gus Dur menyadari sepenuhnya hubungan dagang dengan Israel tidak terlalu menguntungkan bagi Indonesia. Dan kalaupun tidak mendapat tantangan keras di Tanah Air, realisasi hubungan dagang tersebut juga tidak akan serius, karena tidak banyak yang bisa diharapkan. Namun demikian, beliau juga sadar pengeksposan rencana tersebut dapat berdampak positif ganda bagi Indonesia, baik dari Israel maupun dari negara-negara Arab sendiri.

Pengumuman penundaan rencana pembukaan hubungan dagang tersebut juga dilakukan tepat pada waktunya, yaitu menjelang kunjungan Presiden Gus Dur ke Timteng. Dalam kunjungan Presiden Gus Dur ke Timteng ini, Yordania, Kuwait dan Qatar terpilih sebagai negara yang dikunjungi. Jatuhnya pilihan kepada ketiga negara tersebut setidaknya memiliki makna. Pertama, melalui kunjungan ke Yordania selain untuk meningkatkan hubungan baik dengan Pemerintah Yordania, juga untuk menunjukkan sekaligus menjaga/menenangkan perasaan pemimpin dan rakyat Palestina. Karena dalam kunjungan ke Yordania tersebut Gus Dur menyempatkan diri untuk menemui Yasser Arafat dalam perjalanan pulang ke Tanah Air.

Kedua, kunjungan ke negara-negara Teluk yangkaya seperti Qatar dan Kuwait merupan lebih bermotif ekonomi meskipun masih didasari latar belakang politis. Dengan ditundanya rencana pembukaan hubungandagang dengan Israel menjelang keberangkatan ke Timteng, kiranya memberi sinyal tersendiri tidak saja kepada Kuwait dan Qatar juga kepada negara-negara Arab kaya lainnya untuk setidaknya melakkukan sesuatu terhadap krisis ekonomi yang menimpa Indoensia, baik itu melalui investasi maupun peningkatan hubungan perdagangan.

Seolah-olah diisyaratkan kepada negara-negara Arab, “sekarang kita sudah menunda membuka hubungan dagang dengan Israel, sekarang you bantu kita, dong”.Seperti diketahui negara-negara Teluk kaya ini seperti Kuwait, Qatar ini sangan sedikit melakukan investasi di Indonesia. Mereka lebih tertarik berinvestasi/menanam saham di perusahaan multinasional dan negara-negara maju yang lebih aman ekonominya dan cepat balik modalnya.

Selain itu, seperti disinyalir Menlu Alwi Shihab, rencana hubungan dagang dengan Israel dapat berdampak pada lobi Israel di Kongres AS. Dalam hubungan ini adanya rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel (meskipun akhirnya ditunda) dalam beberapa hal setidaknya mengubah persepsi masyarakat Yahudi selama ini terhadap Indonesia.

Karena seperti yang diargumentasikan oleh Menlu Alwi Shihab, tujuan membuka hubungan dagang dengan Israel bukan semata-mata mengail dampak ekonomi tetapi juga lobi Israel di berbagai negara terutama di AS. Paling tidak dengan adanya rencana pembukaan hubungan dengan Israel (meskipun hanya dalam taraf hubungan dagang) telah menunjukkan fleksibilitas sikap pemerintah Gus Dur terhadap masalah Israel. Kalaupun rencana tersebtu ditunda, lain soal dan tidak begitu menjadi masalah.

Apabila hipotesis di atas benar maka kiranya hal ini semakin membuktikan Gus Dur tidak saja piawai dalam maneuver politik dalam negeri tetapi juga mumpuni dalam bermanuver politik luar negeri/diplomasi. Dengan demikian, seperti pepatah, sekali mendaung dua-tiga pulau terlampaui.

Dari negara-negara Arab mendapat dukungan untuk memperbaiki ekonomi yaitu menggugah negara-negara Teluk yang kaya seperti Kuawai dan Qatar (diharapkan pula dapat terimbas pada negara-negara Teluk Kaya lainnya) untuk turut membantu Indonesia mengatasi krisis Ekonominya.

Dari Israel, melalui lobi Israel di negara-negara besar seperti AS, citra Indonesia di bawah Pemerintah Gus Dur dapat diperbaiki sehingga tidak sekaku sebelumnya. Karena secara jujur, bagaimana adanya jaminan/citra positif dari negara-negara besar seperti AS untuk membantu dan tidak mencampuri masalah internal merupakan modal penting dalam upaya membenahi ekonomi dan politik nasional.

Dalam kaitan ini, kiranya kita tidak usah terlalu buru-buru mencaci Presiden Gus Dur mengenai “rencana pembukaan hubungan dagang” dengan Israel tersebut.

Penulis adalah pengamat masalah internasional, tinggal di Damaskus, Suriah

No comments:

Post a Comment